Ode To My Father – Kisah Pilu Dibalik Perang Korea

Film Ode To My Father dirilis pada tahun 2014, dan langsung menduduki puncak pertama box office, dengan jumlah penonton 1,5 juta pada 5 hari penayangannya. 

Berlatar tahun 1950-an, film ini menyorot sejarah Korea Selatan, mulai dari evakuasi Hungnam, perang Korea, sampai ke perang Vietnam. 

Menceritakan seorang anak laki-laki bernama Yeon Deok Soo ( Hwang Jung Min) yang terpisah dengan ayah dan adik perempuannya waktu evakuasi Hungnam pada saat terjadi perang Korea tahun 1951. 

Ode To My Father (2014) : Film Laris Box Office Korea Sepanjang Masa

Saat itu Deok Soo menggenggam erat tangan Mak Soon (Shin Rin Ah) adik perempuannya, namun karena ribuan pengungsi dari Pyongyang (yang sekarang menjadi wilayah Korea Utara) berebut masuk ke kapal Amerika untuk mengungsi, pegangan tangan mereka akhirnya terlepas, mereka terseret-seret diantara ribuan orang.

Kemudian sang ayah (Jong Young Nam) memutuskan mencari Mak Soon. Ia meminta Deok Soo untuk mengawal ibu dan kedua adiknya yang lain menuju pelabuhan Busan, untuk menemui sang bibi (Ra Mi Ran) yang memiliki toko disana. Ayahnya pun berjanji akan menemui mereka disana. Namun, ayahnya tak kunjung datang. 

Deok Soo akhirnya menjadi kepala keluarga menggantikan ayahnya yang tak kunjung datang. Ia bekerja apa saja untuk membantu ibunya memenuhi kebutuhan mereka. 

Hingga pada tahun 1960, Deok Soo terpaksa pergi ke Jerman, dan bekerja sebagai buruh tambang disana untuk membiayai kuliah adiknya. 

Di perantauan ia bertemu gadis Korea bernama Young Ja (Yunjin Kim), yang bekerja sebagai perawat disana. Pertemuan yang tidak disengaja berakhir jadi cinta, hingga akhirnya Young Ja hamil. 

Tak lama setelah itu, Deok Soo terpaksa harus pulang ke Korea karena visanya habis dan tidak bisa diperpanjang. Beberapa bulan kemudian, Young ja menyusulnya dan mereka menikah. 

Pada tahun 1970, bibi Deok Soo meninggal, paman Deok Soo pun berniat menjual toko karena ia membutukan uang. 

Namun Deok Soo tidak menyetujuinya, karena ia ingat pesan ayahnya pada saat evakuasi Hungnam, untuk menjadikan toko tersebut sebagai titik pertemuan mereka. 

Demi mempertahankan toko itu, Deok Soo pun berniat membelinya. Disaat yang bersamaan ia juga membutuhkan biaya untuk pernikahan adik bungsunya. 

Karena sedang membutuhkan uang yang banyak, ia memutuskan untuk ikut perang Vietnam. Meski sudah dilarang ibu dan istrinya karena sangat berbahaya, ia tetap memutuskan untuk berangkat. 

Tahun 1975 perang Vietnam berakhir, Deok Soo kembali ke Korea dengan selamat meski dengan kaki yang sedikit pincang. 

Lalu Deok Soo membeli toko bibinya dari pamannya, dan mengelolanya bersama sang istri. 

Pada tahun 1983, ada sebuah program televisi yang mempertemukan keluarga yang terpisah akibat perang Korea. Deok Soo pun mendaftar program tersebut, dengan harapan bisa bertemu kembali dengan ayah dan adiknya. 

Sampai akhirnya, Mak Soon sang adik yang telah tinggal di Los Angles dan telah menikah menemukannya lewat program itu. 

Mak Soon dan keluarga kecilnya datang ke Korea untuk menemui keluarganya, setahun setelah itu ibu mereka pun meninggal. 

Hari demi hari berlalu, namun beban berat dalam hatinya belum juga bisa dilepaskan, ia sangat merindukan ayahnya. 

Perang memang selalu menyisakan pedih dan merenggut banyak hal. Film ini menjadi gambaran para korban perang Korea yang menginginkan perjumpaan kembali dengan keluarga mereka. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *